Rabu, 01 Juni 2016

Nicholas Kurniawan



Nama Nicholas Kurniawan mungkin belum terlalu familiar di telinga Anda, namun saat ini di usianya yang masih sangat belia, 20 tahun, ia sudah sukses menjadi eksportir ikan hias termuda di Indonesia. Semua berawal dari kondisi keluarganya yang terpuruk dan terlilit utang, dan Nicholas pun berniat untuk mengubah nasibnya. Sempat mencoba berbagai bisnis mulai dari asuransi, makanan, MLM, dan mainan, jatuh bangun dan bahkan sempat tidak naik  kelas saat kelas 2 SMA, ia mulai bangkit kembali dan mencoba peruntungannya dengan menjual ikan hias secara online melalui situs Kaskus. Meski sempat beberapa kali ditipu oleh calon pembeli, bisnis ikan hias Nicholas kini sudah menjangkau luar negeri dan dalam sebulan omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp100 juta.

sumber : www.cermati.com

Sunny Kamengmau


Anda pernah mendengar tas tangan merek Robita? Tas Robita yang begitu populer di Jepang ini bahkan kabarnya menjadi idaman oleh semua kalangan sosialita di negara sakura itu. Orang yang berada di balik 'dapur' tas merek Robita ini adalah Sunny Kamengmau, pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Siapa sangka pemuda yang tidak pernah lulus SMA itu akhirnya menjadi pengusaha sukses yang dapat menginspirasi siapa pun yang mendengar kisahnya.
Sunny mengawali bisnisnya dengan modal nekat. Setelah meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Bali, ia bekerja sebagai tukang sapu di sebuah hotel. Selang beberapa lama ia pun diangkat menjadi satpam karena dianggap memiliki etos kerja yang bagus. Selama itu, ia juga memanfaatkan waktunya untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Gaji pertamanya ia sisihkan untuk membeli kamus dua bahasa asing tersebut dan mempelajarinya dengan tekun. Keberuntungan mungkin memang berada di pihaknya sejak awal ia dipekerjakan di hotel tersebut, karena di sana ia berkenalan dengan seorang pengusaha asal Jepang yang kemudian memintanya untuk memasok tas kulit ke negaranya. Meski sempat terseok untuk beberapa lama, bahkan hampir kehilangan semua penjahit tas yang bekerja untuknya, Sunny perlahan bisa bangkit dan bisnis tasnya itupun kian diperkokoh hingga mampu memiliki 100 orang karyawan.
sumber : www.cermati.com

Reza Nurhilman

Bagi yang belum mengenal nama ini, mungkin Anda lebih mengenal “kripik setan” Maicih. Ya, Reza Nurhilman adalah nama pemuda yang berada di belakang produk keripik singkong ekstra pedas yang populer itu. Reza memulai bisnis keripik singkong ini pada pertengahan 2010 seorang diri saat berusia 23 tahun dengan modal awal 15 juta rupiah. Untuk bisnisnya ini, ia menggandeng satu produsen keripik lokal di Bandung.
Reza mengawali bisnisnya ini dengan melakukan pemasaran sederhana, yakni melalui platform media sosial, Twitter, sebelum mengembangkan sayap dengan menerapkan sistem keagenan yang menggunakan istilah Jenderal agar produknya bisa menggapai konsumen yang lebih luas. Para Jenderal ini memasarkan produknya dengan cara berkeliling atau nomaden.
Pemuda kelahiran Bandung 28 tahun yang lalu ini mengaku kunci kesuksesannya terletak pada cara berpikirnya yang out of the box, yaitu dengan tidak membuka toko seperti kebanyakan penjual sehingga membuat produknya eksklusif.  Melalui Twitter, para jenderal memberitahu informasi lokasi penjualan setiap harinya. Cara pemasaran yang cukup unik ini terbukti berhasil mengangkat nama Maicih di dunia maya. Baru setengah tahun saja, omzet Maicih bisa mencapai Rp7 miliar per bulan. Angka yang fantastis, bukan?
sumber : www.cermati.com

Axton Salim



Pria lulusan Bachelor of Science Business Administration di University of Colorado, AS ini usianya baru kepala tiga, namun ia sudah berada di antara para petinggi perusahaan konsumer besar di Indonesia.

Axton menjadi direktur termuda dari seluruh anggota dewan direksi PT. Indofood. Ia dipercaya menjabat sebagai Direktur Indofood CBP Sukses Makmur serta komisaris PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatra Tbk (LSIP).


Itulah kelima pebisnis muda sukses terkaya di Indonesia. Mereka telah melewati segala proses penuh tantangan hingga bisa sampai ke puncak kesuksesan. Akhir kata, semoga artikel ini dapat menginspirasi pembaca.

sumber : www.ehpedia.com

Michael Riady



Beberapa tahun terakhir ini, Grup Lippo makin agesif membangun pusat perbelanjaan di berbagai daerah. Agresivitas Lippo itu tak lepas dari sosok Michael Riady, CEO of Lippo Malls. Kendati baru bergabung pada 2004, cucu konglomerat Mochtar Riady (pendiri Grup Lippo) ini sudah berani mewacanakan pembangunjan 50 unit mal di Indonesia.

Meski masih muda, lulusan finance department dari Orange County University, AS ini punya visi yang tajam dalam berbisnis. Menurutnya, Lippo harus memanfaatkan momentum kebangkitan ekonomi yang ditandai naiknya jumlah kelas menengah. Termasuk pengembangan infrastruktur, khususnya di Indonesia bagian timur. 

Ketertarikannya akan properti diawali ketika ia masih berstatus mahasiswa, setelah ia membaca majalah Forbes yang mengulas orang-orang terkaya dunia. Dari majalah tesebut ia menemukan jawaban bahwa sekitar 60% orang terkaya di dunia terkait dengan bisnis properti.

sumber : www.ehpedia.com

Armand Wahyudi Hartono



Putra dari bos Grup Djarum, Budi Hartono ini lulus sarjana di Universitas California, AS. Kemudian melanjutkan studi Engineering Economic-System and Operation Research di Universitas Stanford, AS dengan gelar Master of Science.

Kini ia menjabat Operation and Network Development Director di Bank Central Asia. Uniknya meski kaya, namun ia punya prinsip hidup begitu sederhana yang disebutnya SRI, yaitu simple, reserve & investment. Dimana ia mengatakan bahwa impian keluarga keturunan Cina itu yakni dapat makan 2 kali sehari. Selebihnya uang ditabung untuk mengantisipasi apabila terjadi kondisi eksternal yang tak diharapkan. Tak lupa, nilai-nilai itu disampaikan turun temurun ke keluarga generasi seterusnya.

Hal ini juga diterapkan pada prinsip bisnisnya. Baginya, knowledge management bukanlah seperti di buku manajemen berupa laporan tertulis yang kaku, tapi harus disampaikan secara lisan kepada karyawan secara informal sehingga efeknya lebih terasa membekas di hati.

sumber : www.ehpedia.com

John Riady


Berbeda pada anak kecil umumnya yang menghabiskan masa liburan akhir tahun bersama keluarga, sejak sekolah dasar, putra kedua James Riady ini sudah dipaksa bekerja. Berbagai pekerjaan pernah diterapkannya, mulai dari petugas percetakan film Wallmart, kasir Timezone, Housekeeper Hotel Aryaduta, pegawai McDonald’s, hingga menjadi pegawai Bursa Efek Jakarta.




Pria kelahiran 5 Mei 1985 New York, yang saat ini dipercaya menjabat Director Lippo Group & CEO Berita Satu Media ini mengatakan bahwa ada 2 hal utama dalam hidup, yaitu Impacting Life dan Growing in Stewardship.












Berbeda pada anak kecil umumnya yang menghabiskan masa liburan akhir tahun bersama keluarga, sejak sekolah dasar, putra kedua James Riady ini sudah dipaksa bekerja. Berbagai pekerjaan pernah diterapkannya, mulai dari petugas percetakan film Wallmart, kasir Timezone, Housekeeper Hotel Aryaduta, pegawai McDonald’s, hingga menjadi pegawai Bursa Efek Jakarta.







Pria kelahiran 5 Mei 1985 New York, yang saat ini dipercaya menjabat Director Lippo Group & CEO Berita Satu Media ini mengatakan bahwa ada 2 hal utama dalam hidup, yaitu Impacting Life dan Growing in Stewardship. 







John percaya bahwa setiap orang diciptakan dengan talenta berbeda, sehingga harus digunakan tidak hanya untuk sendiri, melainkan untuk banyak orang.

Baginya, pendidikan merupakan hal terpenting suatu negara. John mengatakan, untuk mengubah Indonesia tidak ada cara lain selain dengan pendidikan. Ia yakin bahwa pendidikan yang baik akan membentuk value system, mindset dan mental seseorang

Baginya, pendidikan merupakan hal terpenting suatu negara. John mengatakan, untuk mengubah Indonesia tidak ada cara lain selain dengan pendidikan. Ia yakin bahwa pendidikan yang baik akan membentuk value system, mindset dan mental seseorang.

sumber : www.ehpedia.com